SATE

SATE (Saat teduh bersama Sang Pencipta)

Ketika matahari terbit kita merasa biasa saja, saat dia terbenam barulah kita menyadari betapa indahnya dia…

Demikianlah juga dengan hidup ini, orang yang hadir mewarnai hidup kita dengan cinta terasa biasa saja, setelah dia pergi barulah kita benar-benar menyadari betapa berharganya dia dan cintanya untuk kita.

Jadi, belajarlah untuk menghargai sesama kita, biarpun kita berbeda-beda tetapi kita adalah satu keluarga yang telah diciptakan oleh Allah yang maha kuasa untuk menjalani hidup dengan rasa persaudaraan yang kuat.

 

1000 sabtu                                                                                                                       (Efesus 5:1-21)

Seorang ibu punya seorang anak remaja yang selalu menggunakan waktu denga kurang bijak. Menunda pekerjaan, menonton TV seharian, jalan ke mall tanpa tujuan jelas, bermalas-malasan, dan sebagainya. Karena tidak mau putrinya itu terus-terusan menyia-nyiakan masa mudanya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti itu, suatu kali sang ibu berkata serius kepadanya. “Nak, tahukah kamu bahwa usia orang itu sekitar 75 tahun ? kalau ibu mengalikan 75 itu dengan jumlah minggu dalam satu tahun, yaitu 52, ibu mendapatkan angka 3900. Sejumlah itulah hari sabtu yang kita miliki. Nah, baru setelah mencapai umur 55 tahunlah, ibu mulai memikirkan semua ini secara terinci, ketika ibu sudah melewati sekitar 2800 hari sabtu. Ibu berpikir kalau saja ibu bisa mencapai 75 tahun, berarti ibu hanya memiliki sekitar 1000 hari sabtu lagi untuk dinikmati. Sejak itu, ibu membeli 1000 kelereng dan menyimpannya dalam sebuah wadah. Lau, tiap sabtu ibu akan ambil satu kelereng dan membuangnya. Dengan memerhatikan jumlah kelereng yang makin berkurang jumlahnya itu, ibu kini lebih berfokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam kehidupan.”

Friends, coba hitung berapa usiamu saat ini ? mungkin ada yang berkata, “usiaku masih muda kok, aku masih punya banyak hari sabtu yang bisa digunakan   untuk bersenang-senang!” bisa jadi benar, tapi kalo bicara soal umur, tidak ada yang tahu sampai berapa usia kita. Bisa jadi kita tidak mencapai umur 75 tahun. Ini bukan nakutin, tapi memang segala sesuatu dapat saja terjadi.

Karena itu, yuk lebih bijak dalam menggunakan waktu yang ada. Mulai dari hal yang sederhana. Kalo dulu kita selalu menghabiskan hari sabtu kita untuk hal-hal yang kurang penting, nongkrong di depan TV seharian, nonton film sampai berseri-seri, ke mall tanpa tujuan yang jelas, dan lain-lain. Bisa tidak ganti kebiasaan itu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, contohnya selingi hari itu dengan jalan bareng keluarga, pergi ke took buku, dan sebagainya. Percaya saja, kalo kita sadar bahwa kita hanya punya waktu terbatas, maka kita pun akan berusaha manfaatin itu dengan sebaik mungkin. (Efesus 5:16 “Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”)

 

Metamorfosa diri                                                                                                                     (1 korintus 9:24-27)   

Aku punya teman yang dari waktu ke waktu perubahan wajahnya bisa jauh berbeda. Waktu ditunjukin foto semasa kecilnya, dan kemudian melihat fotonya waktu bayi 1 tahun, balita, SD, SMP, SMA, foto di KTP usia 17 tahun, sampai foto ketika dewasa, wajahnya benar-benar berubah drastic. Bahkan ada juga yang sampai tidak mengenali foto lamanya karena perbedaannya begitu drastic.

Jauh melebihi wajah, seharusnya karakter juga mengalami metamorphosis dari hari ke hari. Kalo wajah bisa berubah sejalan dengan bertambahnya usia, tapi kalo inner life (kehidupan batiniah) tidak tergantung dengan usia, karena ini bicara soal pertumbuhan karakter. Coba kita menuruti kehidupan kita beberapa tahun terakhir, jangan sampai diri kita rusak, tidak berubah, dan masih saja punya sifat lama yang tidak maju bahkan cenderung makin parah. Seharusnya, yang terjadi kalo dulu kita masih suka ngambek, seharusnya kita harus berubah dan tidak bersifat kekanak-kanakan lagi. Dulu maunya menang sendiri, sekarang lebih mau mengalah, dan kata-kata kotor tidak ada lagi dalam kamus diri kita.

Buat berubah jadi baik memang bukan tanpa halangan. Kadang kita jatuh lagi dan kembali ke sifat yang lama. Dan yang namanya ujian itu pasti terasa sakit, bingung, takut, dan sebagainya melintasi pikiran kita, namun kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Sebaliknya, kita harus berjuang agar makin hari makin serupa dengan sifat Sang Juruselamat kita yakni Allah Bapa yang maha kuasa. Bapak paulus mrngibaratkan kita ini sebagai atlet yang sedang bertanding di gelanggang pertandingan. Karena itu, kita harus sampai ke garis finish. Dengan kata lain, metamorfosis itu wajib ada di dalam kamusnya anak-anak Tuhan. Tahukah kita kalau kupu-kupu itu tidak mau lagi kembali ke habitat lama seperti ketika  dia menjadi ulat ? nrgitu juga anak yang sudah bisa makan nasi, harusnya, tidak balik lagi hanya bisa minum susu saja, karena jika seperti itu tentu orang tuanya tidak akan bangga dengan perkembangan anaknya. Kalau kita mau Tuhan bangga sama kita, tetapkan hati yang mau diubahkan dan tinggalkan sifat-sifat lama kita, dan ayo bersiap-siap menjadi kupu-kupuyang indah. Selamat bermetamorfosis ! (2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.)

 

Buka dulu topengmu                                                                                                                                1 Petrus 1:13-25

Friends, kalau baca judul di ats, pasti kalian akan langsung ingat sama sebuah lagu yang dibuat beberapa tahun yang lalu. Tapi, kita tidak akan membahas lagu atau band yang menyanyikannya. Kita akan membahas soal topeng. Apa maksudnya ? pernah tidak kalian berpura-pura menjadi sosok yang bukan diri kalian ? pernah tidak kalian melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak cocok dengan hati nurani tetapi terpaksa kalian lakukan ? semua pasti ada alasannya.

Sebagai manusia kita pasti membutuhkan teman, kita butuh pengakuan dari orang lain atas keberadaan kita. Itu normal-normal saja, tapi akan jadi tidak normal apabila kita melakukan segala sesuatu apapun caranya untuk mendapatkan teman atau perhatian dari orang lain. Kalo kita sampai mengorbankan diri sendiri bahkan orang-orang yang kita sayangi : dandan habis-habisan sampai menguras kantong hanya untuk mendapatkan perhatian seorang cowok, melawan orang tua hanya supaya bisa hangout bareng cewek-cewek yang popular di sekolah, bahkan ngelakuin tindakan yang melawan hukum supaya bisa join persekuan tertentu yang tidak jelas bagaimana dengan latar belakangnya, bahkan kita merasa bersalah, sedih, dan tertekan saat melakukannya, tetapi terkadang keinginan daging lebih kuat menguasai.

Friends, kalo ada di antara kita yang seperti itu, kamu tidak kebetulan membaca renungan ini. Tidak ada gunanya ngelakuin semua itu kalau sebenarnya kita Cuma pake topeng dan membohongi diri sendiri, orang lain dan bahkan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Mungkin kita akhirnya dilirik oleh cowok idaman yang kita sukai, tapi kantong kempes, bisa ikutan ngetop di sekolah, tapi durhaka terhadap orang tua, bisa lulus ujian jadi anggota geng, tapi jadi buronan polisi. Well, sama sekali tidak sebanding kan ? dengarkan Roh Kudus. Kalo buat dapetin  apa yang kita mau, kita harus menyingkirkan dan membuang jati diri  sebagai anak Tuhan dan jadi anak duniawi, lebih baik berhenti saja sebelum kamu terlanjur harus bayar mahal garganya. Gak ada gunanya menyiksa diri memakai topeng yang cantik kalo kita malah tidak bisa bernapas dengan baik. So, buka dulu topengmu ! (1 Petrus 1:14 “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.”)     

 

 

Waiting …                                                                                                                                          (luke 2:22-38)

Autumn is hunting season here in Michigan. For a few weeks every year, licensed hunters are allowed to go out into the woods and hunt for various species of wildlife, some hunters build elaborate tree stands high above the ground where they sit quietly for hours waiting for a deer to wander within rifle range. When I think of hunters who are so patient when it comes to waiting for deer, I think of how impatient we can be when we have to wait for God. We often equate “wait” with “waste”. If we’re waiting for something (or-someone), we think we are doing nothing, which, in an accomplishment-crazed culture, seems like a waste of time. But waiting serves many purposes. In particular, it proves our faith. Those whose faith is weak are often the first to give up waiting, while those with the strongest faith are willing to wait indefinitely. When we read the Christmas story in luke 2, we learn of two people who proved their faith by their willingnessto waith. Simeon and Anna waited long, but their time wasn’t wated; it put them in a place where they could witness the coming of Messiah. Not receiving an immediate answer to prayer is no reason to give up faith.

Not ours to know the reason why unanswered is our prayer, but ours to wait for God’s own time to lift the cross we bear.

Waiting for God is never a waste of time.

(Isaiah 30:18 “Blessed are all those who wait for Him”.) 

NEW LIVE

New life is lived rely the LORD JESUS

New life is live a difficult life

New life is a life that is able to self defeating

Furthermore, new life is live that have a faith and new hope

When temptation comes

He who we are relied on Him will help us

When death overtake us

He who we are relied on Him will acknowledge us

AMEN …

Don’t say “GOD i have a big problem” but say, “hey problem i have a big GOD”

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s